Hadist larangan berharap mati dan dalil yg membolehkannya jika fitnah terlalu besar

Hadist larangan berharap mati dan dalil yg membolehkannya jika fitnah terlalu besar
Print Friendly
Berikut kutipan hadist yang tadi pagi kita diskusikan dari terjemahan kitab al-Fitan (Ibnu Katsir)
Larangan berharap cepat mati
Imam Ahmad berkata, “Hasan meriwayatkan kepada kami dari Ibnu Luhai’ah , dari Ibnu Yunus, dari Abu Hurairah , dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Beliau bersabda:
Janganlah kalian mengharap-harap kematian dan jangan pula kalian berdoa untuk itu, sebelum ia benar-benar datang dengan sendirinya. Kecuali, apabila orang dimaksud telah yakin dengan amalannya. Karena, apabila seseorang dari kalian meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalannya. Dan sesungguhnya bagi seorang mukmin, tidaklah umurnya bertambah melainkan akan menambah kebaikan baginya.”
Sementara dalil bagi diperbolehkannya mengharap kematian pada saat terjadinya berbagai macam fitnah adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Musnad miliknya dari jalur Muadz bin Jabal dalam hadits yang membicarakan mengenai al-manam ath-thawil (tidur panjang), didalamnya disebutkan,
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kekuatan untuk melakukan segala bentuk kebaikan, meninggalkan kemungkaran, cinta terhadap orang-orang miskin dan agar Engkau mengampuni serta mengasihiku. Apabila Engkau berkehendak menimpakan fitnah atas sebuah kaum, maka matikanlah aku kepada-Mu tanpa terkena fitnah tersebut. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon cinta-Mu dan cinta orang yang mencintai-Mu, serta cinta atas seluruh perbuatan yang mendekatkan aku pada cinta-Mu.
Dalam hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ وَأَنْ تَغْفِرَ لِى وَتَرْحَمَنِى وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِى غَيْرَ مَفْتُونٍ أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ,

“Wahai Muhammad, jika engkau shalat, ucapkanlah do’a: Allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot wa tarkal munkaroot wa hubbal masaakiin, wa an taghfirolii wa tarhamanii, wa idza arodta fitnata qowmin fatawaffanii ghoiro maftuunin. As-aluka hubbak wa hubba maa yuhibbuk wa hubba ‘amalan yuqorribu ilaa hubbik (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran serta aku memohon pada-Mu supaya bisa mencintai orang miskin, ampunilah (dosa-dosa)ku, rahmatilah saya, jika Engkau menginginkan untuk menguji suatu kaum maka wafatkanlah saya dalam keadaan tidak terfitnah. Saya memohon agar dapat mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu dan mencintai amal yang dapat mendekatkan diriku kepada cinta-Mu)”. Dalam lanjutan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan, “Ini adalah benar. Belajar dan pelajarilah”. (HR. Tirmidzi no. 3235 dan Ahmad 5: 243. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Hadits tersebut sebagai dalil bahwa akan datang kepada manusia suatu zaman dimana kondisi manusia kala itu sangat berat dan orang-orang muslim tidak mempunyai jama’ah yang berdiri diatas kebenaran, baik disemua lapisan bumi maupun pada sebagiannya.
……
kutipan berikutnya dari kitab yang sama sub-bab Fitnah yang tetap menyerang, meski kita berada di dalam rumah
 
Abu Dawud berkata, “Harun bin Abdullah meriwayatkan kepada kami dari Al-Fadhal bin Dakin dari Yunus, yaitu Ibnu Abi ishaq dari Hilal bin Khabab abu al-‘Ala dari Ikrimah dari Abdullah bin Amru ibnul Ash, ia berkata “Pada saat kami berada disamping Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Beliau menyebutkan mengenai petaka (fitnah) maka disebutkan disana “Dan kalian mendapati manusia yang perjanjian-perjanjian mereka telah kacau, dan menghilanglah amanah mereka, dan keadaan mereka seperti ini (Rasulullah menjalin jari-jarinya). Aku menghampir Beliau dan berkata,”apa yang harus aku lakukan ketika itu, Allah menjadikan aku sebagai tebusan Anda?” Rasulullah menjawab, “Diamlah dirumahmu dan kuasailah lidahmu. Ambillah yang engkau ketahui dan tinggalkan apa yang engkau ingkari. Hendaklah dirimu mengurusi urusan pribadimu dan tinggalkan urusan umum (orang banyak)
Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash berkata, “Ketika kami berada di sisi Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam di tanyakan kepadanya mengenai (sikap) yang tepat dalam menghadapi suatu fitnah, maka beliau bersabda, ‘Jika kalian melihat manusia telah mengabaikan perjanjian-perjanjiannya serta menyepelekan amanat-amanatnya dan mereka menjadi seperti ini, kemudian beliau menyela antara jari-jemarinya,’ maka aku berdiri (mendekati) beliau, aku katakan padanya, ‘Apa yang semestinya aku lakukan ketika itu (semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu)?’ Beliau bersabda, ‘(Tetaplah kamu berada di rumah dan jagalah lisanmu dan ambillah apa- apa yang kamu ketahui, serta tinggalkanlah apa-apa yang kamu ingkari. Berpeganglah kamu terhadap urusanmu saja dan tinggalkanlah olehmu urusan khalayak umum.’” (HR.Abu Daud, berkata Syaikh Al-Albani: Hasan Shahih).
Kiriman dari Pak Razi & Pak Diri

One Comment

  1. shoheh muslim;

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *