Nikmat Persahabatan Karena Allah

Nikmat Persahabatan Karena Allah
Print Friendly, PDF & Email

Bismillah,
Untuk sahabat kita Bapak Muhammad Diri yang akan segera hijrah ke luar Muscat-Oman. Sebuah tulisan berikut semoga dapat terus mempererat hubungan persahabatan karena Allah SWT walaupun terpisah oleh jarak.

Nikmat Allah sangatlah banyak. Tak mungkin seorang pun bisa menghitungnya. Allah berfirman:  “Jika kalian mau menghitung nikmat Allah niscaya kalian tak akan bisa menghitungnya.” (Ibrahim: 34)

Ibnul Qayyim menjelaskan macam-macam nikmat Allah kepada hamba-hamba-Nya:
– Nikmat yang telah didapat dan telah diketahui hamba-Nya
– Nikmat yang ditunggu-tunggu dan diharap-harap oleh hamba-Nya.
– Nikmat yang telah didapat hamba tapi dia tidak merasakannya.

Jika Allah akan menyempurnakan nikmat-Nya kepada seorang hamba maka Allah akan membimbing hamba ini untuk mengetahui nikmat yang telah didapatnya dan diberi taufiq untuk mensyukurinya. (Al-Fawaid hal. 169)

Wahai hamba Allah, diantara sekian nikmat Allah kepada kita semua adalah dipersaudarakan dan disatukannya hati-hati kita, kaum muslimin, di atas agama ini. Allah berfirman: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai, serta ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan. Maka Allah mempersatukan hatimu lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali Imran: 103)

Allah berfirman:
“Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman), walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Al-Anfal: 63)

Persahabatan yang dilakukan karena Allah dan di jalan Allah akan mendatangkan banyak keutamaan bagi seorang muslim. Diantara keutamaan tersebut:

1. Persahabatan yang dibangun lillah (karena Allah) dan fillah (di jalan Allah) adalah ikatan iman yang terkuat.
Rasulullah bersabda:

أَوْثَقُ عُرَى الْإِيْمَانِ الْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ

“Cinta karena Allah dan benci karena Allah adalah ikatan iman yang paling kuat.” (HR. Ath-Thabarani dan dihasankan Asy-Syaikh Albani dalam Ash-Shahihah no. 998)

2. Orang yang saling mencintai karena Allah akan mendapatkan naungan.
Rasulullah menyatakan:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ؛ إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلِّقٌ بِالـمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصَبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهُ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالَهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينَهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan pada saat tidak ada naungan kecuali naungan Allah : pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, seorang yang hatinya senantiasa terkait dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, bersatu dan berpisah di atasnya, seseorang yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan namun pemuda tersebut berkata: ‘Aku takut kepada Allah’, seorang yang bershadaqah dan ia menyembunyikan shadaqahnya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta seorang yang berdzikir kepada Allah sendirian hingga meneteskan air mata.” (HR. Al-Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)

3. Allah mencintai orang-orang yang saling mencintai di jalan-Nya
Dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda:

إِنَّ رَجُلًا زَارَ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ، فَأَرْصَدَ اللهُ تَعَالَى عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا، فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ الْمَلَكُ قَالَ: أَيْنَ تُرِيدُ؟ قَالَ: أَزُورُ أَخًا لِي فِي هَذِه الْقَرْيَةِ. قَالَ: هَلْ عَلَيْكَ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا؟ قَالَ: لَا، إِلاَّ أَنِّي أَحْبَبْتُهُ فِي اللهِ. قَالَ: فَإِنِّي رَسُولُ اللهُ إِلَيْكَ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ لَهُ
Ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di negeri yang lain. Maka Allah mengutus malaikat di belakangnya. Ketika malaikat ini sampai ke orang tersebut, malaikat bertanya, “Engkau akan berangkat kemana?” Orang tersebut menjawab, “Aku ingin mengunjungi saudaraku di jalan Allah.” Malaikat berkata, “Apakah dia memiliki kenikmatan/harta yang engkau kerjakan untuknya?” Dia menjawab, “Tidak. Hanya saja aku mencintainya karena Allah.” Malaikat berkata, “Aku adalah utusan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah mencintaimu sebagaimana engkau telah mencintai temanmu di jalan-Nya.” (HR. Muslim no. 2567)

4. Cinta karena Allah sebab merasakan manisnya iman
Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجِدَ طَعْمَ الْإِيْمَانِ فَلْيُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ

“Barangsiapa yang ingin merasakan nikmatnya iman hendaknya tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah.” (HR. Ahmad. Dihasankan oleh Asy-Syaikh Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6164)

5. Seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya
Dari Abu Musa Al-Asy’ari z: Datang seseorang kepada Nabi SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, seseorang mencintai satu kaum namun tidak bisa menyamai amalan mereka?” Rasulullah SAW berkata:

الْمَرْءُ عَلَى مَنْ أَحَبَّ
“Seseorang akan bersama orang yang dicintainya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

6. Cinta di jalan Allah termasuk keimanan dan menyebarkan salam adalah sebab untuk mendapatkannya.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW  bersabda:

لَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَنْ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ افْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

“Kalian tidak akan masuk surga hingga beriman dan tidak sempurna iman kalian hingga saling mencintai. Maukah aku kabarkan satu amalan jika kalian amalkan kalian akan saling mencintai? (Yakni) Sebarkan salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54)

Al-Imam An-Nawawi berkata, “Makna sabda beliau: Tidak sempurna iman kalian hingga saling mencintai, adalah ‘Tidak sempurna iman kalian dan tidak bagus iman kalian kecuali dengan saling mencintai’.” (Lihat Ni’matul Ukhuwah hal. 5-13)

Wahai hamba Allah, marilah kita jaga persaudaraan (persahabatan) di jalan Allah SWT, karena ini merupakan bentuk syukur kita kepada Allah

Allah SWT berfirman:
Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7)

Mudah-mudahan Allah SWT menambah erat persaudaraan dan kerukunan kita di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih.

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak) dari http://asysyariah.com

One Comment

  1. Ahsan Pak, saya tambahin dari postingan di Pustaka Al-Atsar, sebagai pengingat untuk kita semua…

    Bersabar dalam Bergaul
    3 June 2012

    Dalam pergaulan dengan manusia tidak akan lepas dari 2 kemungkinan, apakah mewarnai atau diwarnai. Mewarnai maksudnya memberikan pengaruh, sedangkan diwarnai maksudnya terpengaruh. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam memberikan perumpamaan yang sangat baik, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim tentang pergaulan dengan penjual minyak wangi dan pandai besi. Demikian juga beliau shallallahu’alaihi wasallam mengisyaratkan bahwa keadaan agama seseorang itu dapat dilihat dari keadaan agama teman dekatnya, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. Demikian itu menunjukkan betapa pentingnya dalam memilih teman bergaul.

    Setelah memahami rambu-rambu dalam pergaulan dan segala kemungkinan yang akan terjadi, akankah kita tetap bergaul dengan manusia atau lebih baik hidup menyendiri jauh dari manusia yang kebanyakan melakukan perbuatan yang melampaui batas? Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

    “Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas perangai buruk mereka lebih besar pahalanya daripada seorang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar dengan perangai buruk mereka.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan Albani).

    Jadi bergaul dengan manusia dan bersabar terhadap gangguannya ternyata lebih baik daripada yang tidak bergaul, tentunya setelah memahami batasan-batasan syar’i dan bersikap sebagaimana yang diinginkan oleh syariat. Inilah salah satu implementasi dari wasiat Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam kepada Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma “bertaqwalah dimana saja kamu berada”.

    Bagi seorang mukmin yang telah memiliki pengetahuan tentang agamanya serta telah istiqomah mengamalkannya, pergaulannya kepada manusia akan memberikan manfaat yang besar, diantaranya adalah dapat berdakwah, membantu saudaranya untuk menyempurnakan agamanya setelah dia menyempurnakan untuk dirinya sendiri. Disinilah dia harus berpegang pada metode mendasar dalam berdakwah sebagaimana diajarkan oleh Allah Ta’ala “

    ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

    “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang paling baik, karena sesungguhnya Tuhan-mu lah yang lebih tahu siapa yang (pantas) tersesat dari jalan-Nya, dan Dia juga yang lebih tahu siapa yang (pantas) menjadi orang-orang yang mendapatkan petunjuk”. (An-Nahl: 125).

    Hikmah adalah tingkatan yang pertama, yaitu dengan ilmu dan menempatkan sesuatu pada tempatnya, berbicara dengan kadar pemahaman mereka, sehingga mudah untuk dicerna dan diterima. Jika dengan hikmah belum mampu menyentuh sasaran, maka berikanlah nasehat yang baik, yaitu berupa kabar gembira dan ancaman, janji pahala dan siksa, namun tetap dengan cara yang lemah lembut. Nabi Musa saja diutus Allah kepada Fir’aun yang telah mengaku dirinya tuhan, agar berdakwah dengan lembut, bagaimana pula sikap kepada sesama saudara muslim. Akhirnya, jika nasehat yang baik pun tidak mempan, maka debatlah dengan cara yang paling baik, yaitu dengan dalil-dalil yang tepat, bukan sekedar debat “kusir” yang tidak akan berujung pada suatu kesimpulan. Diantara debat yang baik adalah adalah yang memberikan persyaratan-persyaratan sebelum dimulainya debat, sebagaimana debatnya Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma kepada kaum Khawarij. Selanjutnya, serahkan kepada Allah Ta’ala, tidak perlu bersedih, tidak perlu memaksa, karena Dia lah yang lebih tahu siapa yang pantas tersesat dari jalanNYa dan siapa yang layak mendapat petunjukNya.

    Ketika seseorang telah menemukan teman pergaulan yang bagus agamanya serta shahih ilmunya, maka hendaknya mereka bersabar untuk tetap bergaul dengan mereka. Bersabar, karena bisa jadi orang-orang yang shalih itu mempunyai sifat-sifat serta perangai yang kurang baik, atau kurang pas bahkan terkadang sulit diterima. Pahamilah, bahwa orang shalih itu adalah manusia biasa, bukan Malaikat yang suci, bukan pula Nabi yang maksum. Bersabarlah, karena bagaimanapun juga bergaul dengan mereka akan memberikan manfaat. Bergaul dengan mereka berarti akan mendapatkan warna yang baik. Bergaul dengan mereka akan memacu untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Maka dari itu Allah Ta’ala memerintahkan untuk besabar dan jangan berpaling dari mereka hanya karena menuruti hawa nafsu sendiri, atau kepentingan dunia lainnya, atau mengikuti orang-orang yang jahil serta lalai dari mengingat Allah, sehingga menyebabkan berbagai macam pelanggaran.

    وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

    “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” [Kahfi: 28]

    Maka bersabarlah dalam bergaul bersama mereka dan tetap dalam kesabaran. Tidak ada batas dalam kesabaran sebagaimana pahalanyapun tanpa batas. Dan kesabaran akan menjadi pelita, sehingga siapa yang mempunyai pelita niscaya akan mampu terus berjalan meski yang dilaluinya adalah lorong-lorong yang gulita.

    Artikel Pustaka Al-Atsar

    Muscat, 13 Rajab 1433H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *