Tafsir Al Maidah, ayat 77-81

Tafsir Al Maidah, ayat 77-81
Print Friendly

Melura (Kamis, 8 Nov 2012) _ Kajian Ba’da Fajr – Qurm, Muscat

Referensi: Tafsir Al-Qur’am Jilid 2, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di

(Pentahqiq : Sa’ad bin Fawwaz ash-Shumail)

Artinya:

“Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Nab Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus. ‘Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu. Disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka, dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa), dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan menjadikan orang-orang musyrikin itu sebagai penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Tafsir Ayat (Ringkasan):

Di antara kedurhakaan Bani Israil yang menjadi penyebab turunnya azab dan terjadinya hukuman adalah bahwa “mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat.” Artinya, sebagian mereka melakukan kemungkaran tetapi sebagian dari mereka tidak melarang yang lain, maka dikatakan bahwa pelaku dan yang lainnya (yang mendiamkan kemungkaran), walaupun sebenarnya dia mampu menginkarinya, adalah sama.

            Itu menunjukan bahwa mereka meremehkan perintah Allah dan bagi mereka berbuat maksiat kepada-Nya, adalah sepele. Jika mereka memiliki penghormatan kepada Rabb mereka, niscaya mereka akan memiliki ghirah terhadap apa-apa yang diharamkan-Nya dan tentunya akan marah karena marah-Nya.

            Dan sesungguhnya, mendiamkan kemungkaran padahal dia mampu untuk mengingkarinya dapat menimbulkan azab, karena ia mengandung dampak negatif yang besar, di antaranya adalah:

–          Sekedar mendiamkan suatu maksiat saja, walaupun orang yang diam itu tidak melakukannya secara langsung, sebagaimana kemaksiatan harus dijauhi, maka pengingkaran terhadap kemaksiatan juga harus dilakukan.

–          Apa yang telah dijelaskan, yaitu bahwa itu menunjukkan rasa meremehkan terhadap kemaksiatan dan kurangnya rasa risih karenanya.

–          Bahwa hal itu membuat para pelaku kemaksiatan semakin berani memperbanyak kemaksiatan jika mereka belum jera darinya, maka keburukan meningkat, musibah dunia dan agama menjadi besar. Para pelaku kemaksiatan itu merajelal dan berkuasa, lalu setelah itu para pengikut kebaikan melemah dalam melawan para pengikut kemaksiatan, akhirnya apa yang dahulu mereka mampu lakukan, sekarang tidak lagi mampu mereka lakukan.

–          Hal ini juga menjadi penyebab terkikisnya ilmu dan merajalelanya kebodohan. Jika  kemaksiatan diulang-ulang dan dilakukan oleh banyak orang lalu para ulama tidak ada yang mengingkarinya, maka akan dikira bahwa ia bukanlah kemaksiatan, bahkan bisa jadi orang bodoh mengiranya sebagai ibadah yang baik. Kerusakan mana lagi yang lebih besar daripada meyakini apa yang diharamkan oleh Allah sebagai sesuatu yang halal, kebenaran menjadi jungkir balik dan yang haq terlihat sebagai suatu kebatilan?

–          Bahwa mendiamkan kemaksiatan bisa menghiasi kemaksiatan itu di hati manusia, lalu sebagian orang mengikuti sebagaian yang lain. Manusia cenderung meniru orang yang sepertinya dari kaumnya. Dan banyak lagi yang lainnya.

Mendiamkan kemungkaran akan berakibat seperti ini, maka Allah menyatakan bahwa Bani Israil yang kafir dari mereka dilaknat oleh-Nya karena kemaksiatan dan pelanggarannya dan dikhususkan dari itu kemungkaran besar ini, “Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.”

Disalin oleh Muhammad Mirza.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *