Wasiat Ibnu Mas’ud “Kalau kalian mengetahui dosa-dosaku”

Wasiat Ibnu Mas’ud “Kalau kalian mengetahui dosa-dosaku”
Print Friendly, PDF & Email

Ibnu Mas’ud memiliki sahabat (murid-murid), dan demikianlah seorang alim yang berdakwah maka pasti manusia akan terpengaruh dengannya. Meskipun demikian beliau adalah suri tauladan hingga dalam kepemimpinannya dan persahabatannya. Suatu kali ia melihat para sahabatnya (murid-muridnya) mengikutinya dibelakangnya, ia melihat jumlah mereka yang banyak  maka beliaupun mengatakan kepada mereka wasiat, dan wasiat-wasiat tersebut sangat layak untuk kita tadabburi.

Diantara wasiat-wasiat beliau adalah:

لو تعلمون ذنوبي ما وطئ عقبي اثنان، ولحثيتم التراب على رأسي، ولوددت أن الله غفر لي ذنبا من ذنوبي، وأني دعيت عبد الله بن روثة. أخرجه الحاكم وغيره.

((Kalau kalian mengetahui dosa-dosaku maka tidak akan ada dua orang yang berjalan di belakangku dan sungguh kalian akan melemparkan tanah di atas kepalaku, dan aku berangan-angan Allah mengampuni satu dosa dari dosa-dosaku dan aku dipanggil Abdullah bin Kotoran)).Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan yang lainnya.

Ia berkata kepada para sahabatnya ((Kalau kalian mengetahui dosa-dosaku maka tidak ada dua orang yang berjalan di belakangku)), dalam riwayat yang lain ((Jika kalian mengetahui dosa-dosaku –kemudian beliau bersumpah dan berkata- Demi Allah yang tidak ada sesembahan selainNya kalau kalian tahu maka sungguh kalian akan menaburkan tanah di atas kepalaku))

Wasiat ini tidak diragukan lagi merupakan pelajaran karena ketenaran dikalangan manusia sangat mungkin terjadi jika seseorang memiliki sesuatu yang membedakannya dikalangan manusia, bisa jadi mereka akan mengagungkannya, bisa jadi mereka akan memujinya, bisa jadi mereka berjalan di belakangnya. Dan seseorang jika bertambah ma’rifatnya kepada Allah maka ia akan menggetahui bahwa dosanya sangatlah banyak.

Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepada Abu Bakar –dan ia adalah orang yang terbaik dari umat ini dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam[1]– yaitu As-Siddiq yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata tentangnya لو وزن إيمان أبي بكر بإيمان الأمة لرجح إيمان أبي بكر  ((Kalau ditimbang imannya Abu Bakar dengan imannya umat maka akan lebih berat imannya Abu Bakar))[2], Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepadanya agar berdoa di akhir sholat dengan doa, maka ia berkata dalam doa tersebut

ربي إني ظلمت نفسي ظلما كثيرا ولا يغفر الذنوب إلا أنت

((Ya Allah sesungguhnya aku telah mendzolimi diriki sendiri dengan kedzoliman yang banyak dan tidak ada yang mengampuniku keculai Eangkau))

Yang berwasiat adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang diwasiatkan adalah Abu Bakar As-Shiddiq

ربي إني ظلمت نفسي ظلما كثيرا ولا يغفر الذنوب إلا أنت فاغفر لي مغفرة من عندك

((Ya Allah sesungguhnya aku telah mendzolimi diriki sendiri dengan kedzoliman yang banyak dan tidak ada yang mengampuniku keculai Eangkau, maka ampunilah aku dengan pengampunan dariMu))[3]

Semakin bertambah ma’rifah seseorang kepada Robnya maka ia akan semakin takut kepada Allah dan akan semakin takut ada dua orang berjalan di belakangnya, takut ia akan diagungkan diantara manusia, takut ia diangkat-angkat dikalangan manusia karena ia mengetahui dari Allah dan dari hak-hak Allah apa yang membuatnya yakin bahwasanya ia tidak akan mencapai derajat bisa memenuhi hak-hak Allah. Ia akan kurang dalam bersyukur kepada Allah dan itu merupakan salah satu bentuk dari dosa-dosa

Ibnu Mas’ud berkata ((Kalau kalian mengetahui dosa-dosaku maka tidak ada dua orang yang berjalan di belakangku))

Orang-orang tersohor, diantaranya orang yang pandai membaca Al-Qur’an, ia terkenal dengan indahnya bacaannya, indahnya suaranya maka orang-orangpun berkumpul kepadanya.

Diantara mereka adalah orang alim yang terkenal dengan ilmunya, tersohor dengan fatwa-fatwanya, dengan kesholehannya, waro’nya.[4]

Diantaranya da’i yang tersohor dengan perjuangannya dalam berdakwah kepada manusia sehingga manusiapun berkumpul disekitarnya karena dengan sebabnya Allah telah memberi petunjuk kepada mereka kepada kebenaran.

Diantaranya ada yang terohor dengan sifat amanahnya.

Dan tersohor orang yang menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dan demikianlah….

Ketenaran merupakan hal yang sangat mudah menggelincirkan orang oleh karena itu Ibnu Mas’ud mewasiatkan kepada dirinya dimana ia menjelaskan dalam wasiatnya tersebut tentang keadaan dirinya, ia menjelaskan bahwasanya apa yang wajib dilakukan oleh setiap orang yang memiliki pengikut, maka ia berkata, “Jika kalian mengetahui dosa-dosaku maka tidak akan ada dua orang yang berjalan di belakangku dan sungguh kalian akan menaburkan tanah di atas kepalaku”

Maka orang yang memiliki popularitas atau termasuk orang-orang yang terpandang di masyarakat hendaknya ia selalu merendahkan dirinya dihadapan masyarakat, ia menampakan rendahnya dirinya di hadapan mereka bukan agar terangkat derajatnya di antara mereka akan tetapi agar terangkat derajatnya di sisi Allah, dan hal ini kembali pada permasalahan ikhlas. Karena diantara manusia ada yang merendahkan dirinya di hadapan manusia agar ia terkenal diantara mereka, dan ini merupakan perangkap syaitan. Di antara mereka ada yang merendahkan dirnya di hadapan manusia dan Allah mengetahui apa yang terdapat dalam hatinya bahwasanya ia benar dalam hal itu, ia takut pertemuan dengan Allah, takut hari dimana akan di balas apa-apa yang terdapat dalam dada-dada pada hari dimana apa yang ada di hati akan nampak dan tidak ada sesuatupun yang bisa bersembunyi dari Allah dan mereka tidak bisa menyembunyikan dari Allah satu kejadianpun.

Ini merupakan pelajaran yang mesti diperhatikan oleh masing-masing dari yang diikuti dan mengikuti. Adapun yang mengikuti maka ia sadar bahwasanya orang yang ia ikuti wajib untuk tidak diagungkan akan tetapi diambil faedah darinya dari apa yang ia sampaikan dari Allah atau dari perkara-perkara yang bermanfaat bagi manusia. Adapun pengagungan maka hanyalah hak Allah kemudian hak Rasulullah, adapun manusia yang lain maka jika mereka baik maka mereka berhak untuk dicintai dalam diri.

Dan hendaknya orang yang tersohor agar senantiasa takut kepada Allah, merasa rendah dihadapan Allah dan selalu mengingat dosa-dosanya, selalu mengingat ia akan berdiri dihadapan Allah, selalu mengingat bahwasanya ia bukanlah orang yang berhak untuk diikuti oleh dua orang yang berjalan di belakangnya. Oleh karena itu tatkala Abu Bakar As-Shiddiq dipuji dihadapan manusia lalu ia berkhutbah setelah itu, telah shahih darinya sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan yang lainnya ia berkata, “Ya Allah jadikanlah aku” –ia mengucapkannya dengan keras- ia berkata,

اللهم اجعلني خيرا مما يظنون، واغفر لي ما لا يعلمون

“Ya Allah jadikanlah aku lebih baik dari yang mereka sangkakan dan ampunilah aku dari apa-apa yang mereka tidak ketahui”[5]

Beliau mengingatkan manusia bahwasanya ia memiliki dosa-dosa hingga manusia tidak berlebih-lebihan kepadanya. Apakah ini sebagaimana yang kita lihat kondisi sekarang ini dimana orang yang diagungkan semakin bertambah pengagungan terhadap dirinya sendiri dan orang-orang yang mengikutinyapun semakin mengagungkannya, ini bukanlah petunjuk para sahabat. Umar terkadang ia ta’jub dengan dirinya sendiri dan ia –tatkala- itu adalah seorang kholifah dan ia adalah orang kedua yang dikabarkan masuk surga setelah Abu Bakar, maka iapun memikul sesuatu di pasar maka diapun merendahkan dirinya hingga ia tidak merasa besar (dan ujub) dengan dirinya.

Dan diantara pintu-pintu dosa adalah perasaan ujub dan merasa besar yaitu seseorang melihat dirinya hebat. Diantara salafus soleh ada yang jika dia hendak menyampaikan muhadhoroh dan ia melihat orang-orang berkumpul maka iapun meninggalkan mereka. Kenapa??, karena kebaikan dirinya lebih wajib ia selamatkan daripada kebaikan orang-orang. Tatkala ia melihat kumpulan yang banyak dan ia melihat dirinya mulai senang jika mereka berkumpul banyak, mereka diam memperhatikan, mereka melakukan demikian dan demikian, mereka menyambutnya maka iapun mengobati dirinya dengan meninggalkan mereka maka merekapun mengatakan tentangnya apa yang mereka katakana. Namun yang paling penting adalah keselamatan hatinya antara ia dan Robnya, dan keselamatan (kebaikan) hatimu lebih penting daripada keselamatan hati orang lain, maka hendaknya tatkala itu perjuangan melawan nafsu dalam keadaan seperti ini.

Jika demikian maka ini adalah wasiat dari Ibnu Mas’ud dimana ia berkata, “Demi Dzat yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Ia  seandainya kalian mengetahui dosa-dosaku maka kalian akan menaburkan tanah di atas kepalaku”

Dan kami berharap wasiat ini selalu diingat oleh setiap yang memiliki suatu ketenaran di antara manusia, baik ia seorang pengajar , atau seorang alim, atau seorang pembaca Al-Qur’an, atau pemegang tanggung jawab dalam suatu urusan tertentu, atau seorang amir (pemimpin/penguasa), atau seorang raja, dan seterusnya dari golongan-golongan manusia, hedaknya ia merasa rendah dengan dirinya hingga ia tidak besar hatinya maka ia akan merugi di dunia dan akhirat. Ini adalah wasiat dan ia merupakan wasiat yang sangat dalam yang mengandung makna yang banyak, dan pada apa yang kami sebutkan di sini hanyalah isyarat-isyarat, dan dibalik isyarat-isyarat ini ada ungkapan-ungkapan, dan perhatikanlah maka engkau akan mendapatkan hal itu.

Abu-Faruq Dedhy, Al-Khobar, 1 Muharram 1434H
Diringkas dari Wasiat-wasiat Berharga Ibnu Mas’ud yang merupakan ceramah Syaikh Sholeh Alu Syaikh yang diterjemahkan dan diberi catatan kaki oleh ustadz Firanda Andirja dari Artikel www.firanda.com

[1] Ar-Robi’ bin Anas berkata, نظرنا في صحابة الأنبياء فما وجدنا نبيا كان له صاحب مثل أبي بكر الصديق “Kami memperhatikan sahabat-sahabat para nabi maka kami tidak mendapatkan seorang nabipun yang memiliki seorang sahabat seperti Abu Bakar” (Tarikh Dimasyq 30/127)

[2] Yang masyhur ini adalah perkataan Umar bin Al-Khotthob sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (Syu’abul Iman 1/69 no 36), Ibnu ‘Asakir (Tarikh Dimasyq 30/126,127), Ishaq bin Rahawaih dalam musnadnya (sebagaimana di nukil oleh Az-Zaila’i dalam kitabnya takhrij Al-Ahadiits wal Atsaar 1/248).

Adapun riwayat yang marfu’ dari Nabi r adalah riwayat yang lemah karena merupakan riwayat Abdullah bin Abdilaziz bin Abi Rowad dari ayahnya. Berkata Abu Hatim dan yang lainnya tentangnya, “Hadits-haditsnya munkar”. Berkata Ibnul Junaid, “Ia meriwayatkan hadits-hadits yang dusta” (Lisanul Mizan 3/310). Berkata Ibnu ‘Adi, “Ia meriwayatkan hadits-hadits dari ayahnya yang  tidak ada perawi lain yang memutaba’ahinya” (Al-Kamil fi du’afa’irrijal 4/201). Ibnu Hibban menyebutnya di kitabnya Ats-Tsiqoot dan berkata, “Haditnya bisa jadi mu’atabar jika ia meriwayatkan dari selain ayahnya” (Ats-Tsiqoot 8/347 no 13809)

 

[3] HR Al-Bukhari 1/286 no 799, 5/2331 no 5967.

[4] Ibnu Mas’ud berkata, بحسب المرء من العلم أن يخاف الله وبحسبه من الجهل أن يعجب بعمله atau dalam riwayat yang lain dengan makna yang sama كفى بخشية الله علما وكفى بالاغترار به جهلا “Cukuplah ilmu bagi seseorang jika ia takut kepada Allah dan cukuplah kebodohan pada dirinya jika ia ujub dengan amalannya” (Musonnaf Ibni Abi Syaibah 7/103, 104)

[5] Berkata An-Nawawi, “Abu Bakar jika dipuji maka beliau berdoa….” (Tahdzibul Asma’ 2/479-480), yaitu doa berikut ini

اللهم أنت أعلم بي من نفسي وأنا أعلم بنفسي منهم اللهم اجعلني خيرا مما يظنون واغفر لي ما لا يعلمون ولا تؤاخذني بما يقولون

Dari Muhammad bin Ziyad dari sebagian salaf bahwasanya mereka berkata tentang seseorang yang dipuji dihadapannya, “Taubatnya dari pujian itu hendaknya ia berkata

 اللهم لا تؤاخذني بما يقولون واغفر لي ما لا يعلمون واجعلني خيرا مما يظنون

“Ya Allah janganlah engkau menghukumu karena pujian mereka, maafkanlah aku karena apa yang mereka tidak ketahui, dan jadikanlah lebih baik dari yang mereka sangka” (Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul iman 4/228 no 4876, lihat Fathul Bari 10/478)

Berkata Abu Bakar Ahmad bin Muhammad Al-Hajjaj Al-Marwazi, “Aku berkata kepada Imam Ahmad, ما اكثر الداعين لك “Betapa banyak orang yang mendoakan kebaikan bagimu”, maka kedua matanyapun berkaca-kaca dan berkata, أخاف ان يكون هذا استدراجا أخاف ان يكون هذا استدراجا “Aku takut ini adalah istidroj”, dan ia berkata, “Muhammad bin Waasi’ berkata, “Kalau seandainya dosa itu memiliki bau maka tidak seorangpun dari kalian yang akan duduk denganku”. Imam Ahmad berkata, “Telah mengabarkan kepadamu Yunus bin ‘Ubaid ia berkata, “Aku membesuk Muhammad bin Waasi’ dan ia berkata, وما يغنى عني ما يقول الناس اذا اخذ بيدي ورجلي فأُلْقِيْتُ في النار “Tidak ada manfaat bagiku pujian manusia jika telah dipegang kedua tanganku dan kedua kakiku lalu aku dilemparkan ke neraka”. Aku berkata kepada Abu Abdillah(Imam Ahmad), “Sebagian ahlul hadits mengatakan kepadaku bahwasanya أبو عبد الله لم يزهد في الدراهم وحدها قد زهد في الناس Abu Abdillah tidak hanya zuhud di dirham saja bahkan ia juga zuhud pada manusia”, maka Abu Abdillah berkata, ومن أنا حتى أزهد في الناس الناس يريدون يزهدون في “Siapakah aku hingga aku zuhud kepada orang-orang, orang-oranglah yang zuhud kepadaku”, dan Imam Ahmad berkata, “Mintalah kepada Allah agar menjadikan kita lebih baik dari yang mereka persangkakan dan mengampubi kita atas apa-apa yang mereka tidak ketahui”  (Al-Waro’ li ibni Hanbal 1/152)

Hukum memuji pada dasarnya adalah tidak boleh disebabkan dua hal berikut:

1.        Bisa jadi ia memuji sesuatu yang tidak mungkin ia ketahui (seperti berkata bahwa ia adalah orang yang bertakwa, orang yang ikhlas, orang yang waro’, zuhud…, karena ini menyangkut hati dan tidak ada yang mengetahui isi hati kecuali Allah) oleh karena itu hendaknya orang yang memuji berkata “Aku menyangka demikian”. Berbeda jika ia mengatakan “Aku melihatnya sholat atau berhaji, berzakat” karena hal ini bisa diketahui olehnya namun…

2.        Tinggal kecelakaan bagi orang yang dipuji karena ia tidak aman jika dipuji akan timbul perasaan sombong atau ujub atau iapun jadi lalai karena bertawakal dengan pujian sipemuji tersebut akhirnya iapun malas untuk beramal, karena orang yang terus beramal biasanya adalah orang yang menganggap dirinya kurang.

Namun jika yang dipuji selamat dari hal ini maka tidaklah mengapa, bahkan bisa jadi hukumnya adalah mustahab sebagaimana Nabi r telah memuji Abu Bakar dengan perkataannya, “Sesungguhnya engkau bukan termasuk orang yang isbal karena sombong”, demikian juga perkataan Nabi r kepada Umar, ما لقيك الشيطان سالكا فجا الا سلك فجا غير فجك “Tidaklah Syaitan bertemu denganmu tatkala engkau melewati jalan kecuali syaitan akan mencari jalan yang lain”. Demikian juga pujian Nabi r kepada lelaki Anshor yang menjamu tamu Rasulullah r “Allah ta’jub dengan perbuatan kalian berdua”, dan yang lainnya.  Ibnu Uyainah berkata, من عرف نفسه لم يضره المدح “Barangsiapa yang mengenal dirinya maka pujian tidak akan mencelakakannya” (Disadur dari penjelasan Ibnu Hajar dalam Al-Fath 10/478-479). Namun siapakah yang merasa aman dari ujub jika dipuji sebagaimana Abu Bakar dan Umar???!!!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *