Dua Syurga (1)

Print Friendly, PDF & Email

jannahDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam , beliau bersabda, ‘Barangsiapa yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala  dan rasul-Nya, mendirikan shalat dan puasa bulan Ramadhan, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala  memasukkannya di dalam surga. Berhijrah di jalan Allah subhanahu wa ta’ala  atau menetap di buminya yang ia dilahirkan padanya.’ Mereka bertanya: ‘Ya Rasulullah, bolehkah kami memberitahukan manusia dengan hal tersebut?’ Beliau bersabda: “Sesungguhnya di surga itu ada seratus derajat/tingkatan yang disediakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala  bagi para mujahid fi sabilillah. Jarak di antara setiap dua derajat adalah seperti jarak di antara bumi dan langit. Bila kamu memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala , maka mintalah surga Firdaus, sesungguhnya ia berada di tengah-tengah surga dan yang tertinggi. Di atasnya adalah ‘arsy Ar-Rahman, dan darinya terpancar sungai-sungai surga.” (HR. Bukhari No 7423.).

“Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangan, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin” (QS Ar-Rahman : 56).

Ibnul Qoyyim memberi isyarat tentang adanya dua pendapat di kalangan para ulama tentang firman Allah Azza wa Jalla di atas (QS Ar-Rahman : 56)

Pendapat pertama adalah para bidadari menundukan pandangannya, mereka hanya melihat kepada para suami mereka penghuni surga. Hal ini karena para bidadari memang tidak mengenal para lelaki kecuali suami-suami mereka penghuni surga. Bahkan mereka tidak pernah disentuh sedikitpun oleh lelaki lain baik dari kalangan manusia maupun kalangan jin. Sungguh mereka tidak disentuh kecuali oleh suami mereka penghuni surga. Jadilah suami mereka adalah yang tertampan dan terbaik serta terindah di mata para bidadari. Mereka tidak pernah membandingkan suami mereka ini dengan lelaki yang lain, apalagi sampai melirik lelaki lain. Kecintaan mereka dan fikiran mereka hanyalah untuk melayani suami mereka, karena para bidadari memang diciptakan oleh Allah hanya untuk mencintai dan merindukan serta melayani suami mereka. Hal ini tentunya berbeda dengan para wanita dunia yang sering membandingkan suami mereka dengan lelaki yang lain, yang hal ini tentu sangat menyakitkan hati suami mereka. Bahkan para wanita dunia tertawan dengan ketampanan lelaki yang lain….sungguh jauh berbeda dengan sifat para bidadari yang tidak melirik dan memandang kecuali kepada suami mereka.

Pendapat pertama inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah.

Adapun pendapat kedua, yaitu para bidadari menundukan pandangan para suami mereka, karena terlalu cantik dan menawannya para bidadari sehingga tidaklah terbetik dalam hati suami mereka untuk melirik wanita yang lain, karena kepuasan sudah ia dapatkan dalam kecantikan wajah dan kemolekan tubuh para bidadari. Yang hal ini tentunya berbeda dengan wanita dunia, bagaimanapun seorang lelaki memiliki seorang istri yang sangat cantik jelita toh hati sang lelaki masih melirik ke wanita yang lain, bahkan meskipun sang lelaki telah memiliki empat istri dari wanita dunia.

Kemudian Ibnul Qoyyim berkata lagi :

هَذَا وَلَيْسَ الْقَاصِرَاتُ كَمَنْ غَدَتْ … مَقْصُوْرَةً فَهُمَا إِذًا صِنْفَانِ

Dan para bidadari yang menunjukan lirikan mata ini, mereka bukanlah para bidadari yang terpingit, maka kalau begitu ada dua model para bidadari

Ibnul Qoyyim mengisyaratkan bahwa ada dua jenis bidadari yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an, yang pertama adalah Bidadari yang menundukan pandangan yang Allah sebutkan dalam surat Ar-Rahman ayat 56, setelah itu Allah menyebutkan ada tingkatan surga yang lebih rendah derajatnya. Allah berfirman

وَمِنْ دُونِهِمَا جَنَّتَانِ

“Dan selain dari dua syurga itu ada dua syurga lagi (yang lebih rendah derajatnya)”
(QS Ar-Rahman : 62)

Lalu Allah sebutkan bahwa dalam surga yang lebih rendah derajatnya ini ada jenis bidadari yang kedua, Allah berfirman :

فِيهِنَّ خَيْرَاتٌ حِسَانٌ (٧٠)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٧١)حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ (٧٢)

“Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang baik- baik lagi cantik-cantik, maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam rumah (QS Ar-Rahman :70-72)

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ (46)

“ Orang yang takut akan kedudukan Rabb-nya baginya dua surga.”

[Ar Rahman : 46]

Sesungguhnya cita-cita dan harapan terbesar seorang hamba adalah masuk kedalam surga Allohta’ala yang seluas langit dan bumi. Orang yang beruntung adalah orang yang dijauhkan oleh Alloh ta’ala dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Sebagaimana firman Alloh ta’ala :

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ (185)

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.[Al Imron : 185]

Oleh karena itu barangsiapa yang dimasukkan ke dalam neraka [tidak dapat keluar darinya] dan dijauhkan dari surga mereka adalah orang yang merugi, sebagaimana perkataan Syaikh As Sa’di–rohimahulloh-

ومفهوم الآية، أن من لم يزحزح عن  النار ويدخل الجنة، فإنه لم يفز، بل قد شقي الشقاء الأبدي، وابتلي بالعذاب السرمدي.

“ Mafhum dari ayat ini adalah bahwa orang yang tidak dapat keluar dari neraka dan tidak  dimasukkan kedalam surga, maka dia bukanlah orang yang beruntung, bahkan dia akan mendapatkan kesengsaraan yang abadi dan adzab yang kekal.” [ Lihat Taisir Karimir Rahman, karya Syaikh As Sa’di -rohimahulloh-]

Kemudian siapakah hamba yang akan mendapatkan surga Alloh ta’ala ?

Salah satu sifat seorang hamba yang dijanjikan surga Alloh ta’ala adalah hamba yang disebutkan dalam surat Ar Rahman ayat 46 ini. –semoga Alloh jadikan kita termasuk hamba-Nya yang memiliki sifat demikian-

Apakah maksud خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ مَنْ [orang yang takut kedudukan Rabb-nya] ?

Imam Qurthubi –rohimahulloh- berkata :

والمعنى خاف مقامه بين يدي ربه للحساب فترك المعصية. فـ {مَقَامَ} مصدر بمعنى القيام. وقيل: خاف قيام ربه عليه أي إشرافه واطلاعه عليه

“ Makna [takut kedudukan Rabb-nya] adalah takut ketika dia berdiri dihadapan Rabbnya ketika dihisab sehingga dia meninggalkan maksiat. Maka {مَقَامَ} adalah mashdar yang bermakna القيام[berdiri]. Dikatakan juga bahwa maksudnya adalah takut akan kemuliaan-Nya dan pengawasan-Nya atasnya.” [ Lihat Tafsir Imam Qurthubi –rohimahulloh-]

Mujahid dan Ibrohim An Nakho’i –rohimahumalloh- berkata :

هو الرجل يهم بالمعصية فيذكر الله فيدعها من خوفه

“ Dia adalah seseorang yang berkeinginan kuat untuk berbuat maksiat kemudian dia mengingat Alloh maka dia tinggalkan maksiat tersebut karena rasa takutnya kepada-Nya.” [ Lihat Tafsir Imam Qurthubi –rohimahulloh-]

Ad Dhahak –rohimahulloh- berkata :

هذا لمن راقب الله في السر والعلانية بعلمه ما عرض له من محرم تركه من خشية الله وما عمل من خير أفضى به إلى الله ، لا يحب أن يطلع عليه أحد .

“ [janji ini] bagi orang yang merasa dalam pengawasan ilmu Alloh baik ketika sendiri atau banyak orang, dia meninggalkan keharaman karena takut kepada Alloh dan dia melakukan kebaikan hanya diperuntukkan kepada Alloh, dia tidak suka ada seseorang yang melihatnya.”

[ Lihat Tafsir Imam Al Baghowi –rohimahulloh-]

Imam Ibnu Katsir –rohimahulloh- setelah menyebutkan beberapa sebab turunnya ayat ini, yang salah satu sebabnya ayat ini turun kepada sahabat yang mulia Abu Bakar –rodhiyallohu ‘anhu-beliau berkata :

والصحيح أن هذه الآية عامة كما قاله ابن عباس وغيره، يقول تعالى: ولمن خاف مقامه بين يدي الله عز وجل يوم القيامة، { وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى } [ النازعات:40 ]، ولم يطغ، ولا آثر الدنيا، وعلم أن الآخرة خير وأبقى، فأدى فرائض الله، واجتنب محارمه، فله يوم القيامة عند ربه جنتان، كما قال البخاري، رحمه الله.

“ Pendapat yang benar adalah bahwa ayat ini bersifat umum sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas dan ulama’ selainnya. Alloh ta’ala berfirman bahwa orang yang takut akan kedudukan-Nya [ketika dia] menghadap Alloh pada hari kiamat, [menahan jiwanya dari memperturutkan hawa nafsu], tidak melampaui batas, tidak lebih mengutamakan dunia [daripada akhirat] dan dia menyakini bahwa negeri akhirat itu lebih baik dan lebih kekal [dari pada dunia], kemudian dia menunaikan kewajiban-kewajiban Alloh, menjauhi larangan-larangan-Nya. Baginya ada dua surga dari Rabb-nya pada hari kiamat, sebagaimana yang dikatakan Imam Bukhori –rohimahulloh-.” [Lihat tafsir Ibnu Katsir –rohimahulloh-]

Apakah maksud dari جَنَّتَانِ [dua surga] ?

Ada beberapa perkataan para ulama’ tentang maksud “dua surga” dalam ayat ini, diantaranya :

1. Muqotil –rohimahulloh- berkata :

جنة عدن ، وجنة النعيم

“ surga adn dan surga naim.”

2. Dikatakan bahwa satunya surga sebagai rumah untuknya dan satunya untuk istrinya.

3. Dikatakan juga satunya surga untuk manusia yang takut [kepada Alloh] dan satunya untuk jin.

4. Dikatakan pula satu surga karena melakukan ketaatan dan satunya karena meninggalkan kemaksiatan.

Sebagaimana perkataan Muhammad bin Ali At Tirmidzi –rohimahulloh- berkata :

جنة لخوفه ربه وجنة لتركه شهوته

“ Satu surga karena takutnya kepada Rabbnya dan satu surga karena perbuatannya meninggalkan maksiat.” [ Lihat Tafsir Imam Al Baghowi –rohimahulloh-]

Pendapat ini mirip dengan apa yang dikatakan oleh Syaikh As Sa’di –rohimahulloh-, beliau berkata :

إحدى الجنتين جزاء على ترك المنهيات، والأخرى على فعل الطاعات

“ Satu surga sebagai balasan karena meninggalkan larangan dan yang satunya karena melakukan ketaatan.” [ Lihat Taisir Karimir Rahman, karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di –rohimahulloh-]

Dan pendapat yang lainnya bisa dilihat di lihat di tafsir Fathul Qodir, karya Imam Syaukani –rohimahulloh-

Apakah jin juga bisa masuk surga ?

Imam Ibnu Katsir –rohimahulloh- ketika mengomentari ayat ini berkata :

وهذه الآية عامة في الإنس والجن، فهي من أدل دليل على أن الجن يدخلون الجنة إذا آمنوا واتقوا؛ ولهذا امتن الله تعالى على الثقلين بهذا الجزاء فقال: { وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ . فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ } .

“ Ayat ini bersifat umum mencakup manusia dan jin, maka ayat ini adalah dalil yang paling kuat yang menunjukkan bahwa jin akan masuk surga apabila mereka beriman dan bertaqwa. Oleh karena itu Alloh anugerahkan kepada jin dan manusia dengan balasan ini , Alloh berfirman [ dan bagi yang takut akan kedudukan Rabb-nya baginya ada dua surga, maka nikmat Alloh yang manakah yang kamu dustakan].” [Lihat tafsir Ibnu Katsir –rohimahulloh-]

Syaikh Muhammad Amin As Syinqithi –rohimahulloh- berkata :

نص قرآني على أن المؤمنين الخائفين مقام ربهم من الجن يدخلون الجنة.

“ Merupakan nash tegas dari Al Qur’an yang menunjukkan bahwa orang-orang mukmin yang takut kedudukan Rabb-nya dari kalangan jin akan masuk surga.” [ Lihat Adhwaaul Bayan]

Faedah-Faedah Ayat :

1. Keutamaan orang yang memiliki sifat takut kepada  Alloh ta’ala yang rasa takut tersebut dapat menghalangi dia terjatuh dalam perbuatan maksiat.

Tempat kembali mereka adalah surga, sebagaimana firman Alloh ta’ala :

{وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ, وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى, فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى} [النازعات:39-41]

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).” [An Nazi’at : 39-41]

Muqotil –rohimahulloh- berkata :

هو الرجل يهمّ بالمعصية ، فيذكر مقامه للحساب ، فيتركها

“ Dia adalah seseorang yang punya keinginan kuat berbuat maksiat, kemudian dia ingat ketika dia berdiri [dihadapan Alloh] untuk dihisab, maka dia tinggalkan maksiat tersebut.” [ Lihat Tafsir Imam Al Baghowi]

Bahkan mereka akan mendapatkan dua surga, sebagaimana surat Ar Rahman ayat 46 diatas.

2. Jin yang dia beriman dan bertaqwa kepada Alloh ta’ala, punya rasa takut kepada-Nya juga bisa masuk surga.

Sebagaimana perkataan Syaikh Muhammad Amin As Syinqithi –rohimahulloh- berkata :

. نص قرآني على أن المؤمنين الخائفين مقام ربهم من الجن يدخلون الجنة.

“ Merupakan nash tegas dari Al Qur’an yang menunjukkan bahwa orang-orang mukmin yang takut kedudukan Rabb-nya dari kalangan jin akan masuk surga.” [ Lihat Adhwaaul Bayan]

3. Penetapan adanya surga yang dipersiapkan Alloh ta’ala untuk orang-orang yang bertaqwa dan takut kepada-Nya.

4. Orang yang mulia dan mendapatkan surga Alloh ta’ala bukan dilihat dari kekayaannya, kedudukannya, nasabnya atau perkara-perkara dunia yang lainnya.

Akan tetapi orang yang mulia adalah orang-orang yang bertaqwa kepada Alloh dan takut kepada-Nya.

Sebagaimana firman-Nya :

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ (13)

“ Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Alloh ta’ala adalah orang yang paling bertaqwa diantara kalian.” [Al Hujurot : 13]

5. Sungguh bahaya orang yang tidak mengagungkan Alloh ta’ala, tidak memiliki atau tipis sekali rasa takutnya kepada Alloh ta’ala karena hal ini bisa menjerumuskan seseorang kedalam jurang kemaksiatan.

6. Alloh membalas seorang hamba sesuai dengan amalan mereka, bahkan balasan Alloh lebih baik dari amalan hamba-nya.

7. Hendaknya seseorang banyak berdo’a kepada Alloh supaya dianugerahkan rasa takut yang rasa takut tersebut dapat menghalangi dia dari berbuat maksiat kepada-Nya.

Wallohu’alam bi showab

Sumber:

http://klikuk.com/ringkasan-fikih-islam-gambaran-surga-1/
http://www.firanda.com/index.php/artikel/surga-a-neraka/181-syair-ibnul-qoyyim-tentang-bidadari
https://abukarimah.wordpress.com/2010/02/04/dua-surga-untuk-siapa/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *