Melura?

Print Friendly

Melura, yang maksud awalnya adalah “Melu ra?” (ungkapan bahasa jawa yang artinya: “Ikut apa enggak?” – Yang belum bisa ikut hadir, kami mendoakan agar antum dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala untuk menghadirinya), adalah sebuah akronim yang “dipaksakan” dari MajElis iLmU RAmadhan. Sebuah majelis belajar bersama yang kami bentuk di bulan Ramadhan 1428H (September 2007) di Muscat-Oman.

Namanya mungkin terdengar “aneh” untuk sebuah kegiatan ngaji, bahkan mungkin juga kurang “menggigit”. Tapi, apalah artinya sebuah nama. Toh kami tidak bermaksud men-sakral-kan penamaan ini melainkan hanya untuk memudahkan dalam penyebutan. Dan penamaan ini diterima oleh teman-teman yang berminat melu duduk bersama mengkaji ilmu syar’i untuk memanfaatkan waktu luang di bulan Ramadhan. Pada saat itu jam kerja pada bulan Ramadhan hanya sampai pukul 1 siang bagi pekerja muslim. Lalu kami memanfaatkan sisa setengah harinya untuk duduk melingkar membaca kitab Tafsir Juz’amma karya Ibnu Katsir rahimahullah.

Stamina sebagian teman ternyata tetap terjaga selepas Ramadhan, maka kegiatan belajar bersama ini pun berlanjut setelah Ramadhan dengan waktu seminggu sekali. Waktu yang dipilih pun sengaja “menantang”, ba’da shalat Subuh di masjid. Tujuannya adalah untuk “menantang” teman-teman berlatih shalat Subuh berjamaah di masjid. Alhamdulillah, dengan taufiq dari Allah Ta’ala, waktu ba’da Subuh ini terbukti menjadi favorit setelah beberapa kali mencoba berpindah jadwal.

Takdir Allah yang mempertemukan kami, TakdirNya pula yang memisahkan kami. Hampir sebagian besar “santri” Melura generasi awal ber-hijrah betebaran ke penjuru bumi Allah untuk menjalani ketetapan Allah. Dan ketetapanNya pula,  Allah ‘Azza wa Jalla mengganti dengan “santri-santri” baru yang tidak kalah bersemangat untuk menuntut ilmu agar dapat beramal dan berdakwah di atas sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wassallam.

Ke depannya, masih akan ada yang datang dan ada yang pergi, mengingat keberadaan kami di perantauan. Maka kami memutuskan untuk membuat blog ini untuk mencatat apa-apa yang pernah kita kaji di majelis Melura. Harapan kami, blog ini dapat menjadi sarana mengikat ilmu sekaligus menjadi tempat bertegur sapa dan bernostalgia sesama “santri” Melura. Kalaupun ada yang mengambil manfaat dari blog ini, Alhamdulillah, semuanya gratis tanpa perlu meminta ijin dari kami…”Hak cipta Milik Allah semata”. Kami pun bersyukur, sehingga kami bisa berharap balasan yang tiada terputus dari Allah ‘Azza wa Jalla jika ilmu ini menjadi manfaat, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Muscat, 19 Shafar 1433H

Abu Faruq Dedhy Prihtiantoro


“Jazakumullah khairan atas kunjungan saudaraku sekalian di situs kami, semoga Allah Subhanahu wa ta’ala menetapkan kita bersama-sama kelak di syurga-Nya.”  .. Amiin.