Fikih Hadits

Hukum Mengamalkan Hadits Dhoif

Posted on Mar 29, 2014 in Fikih Hadits

hadist lemah1Beberapa pakar hadits dan ulama-ulama ahli tahqiq berpendapat bahwa hadits dha’if tidak boleh dipakai secara mutlak, baik hal itu dalam masalah ahkam (hukum-hukum) maupun fadha-il.

a. Syaikh Muhammad Jamaluddin al-Qasimi menyebutkan dalam kitabnya, Qawaaidut Tahdits: “Hadits-hadits dha’if tidak bisa dipakai secara mutlak untuk ahkaam maupun untuk fadhaa-ilul a’maal, hal ini disebutkan oleh Ibnu Sayyidin Nas dalam kitabnya, ‘Uyunul Atsar, dari Yahya bin Ma’in dan disebutkan juga di dalam kitab Fat-hul Mughits. Ulama yang berpendapat demikian adalah Abu Bakar Ibnul Araby, Imam al-Bukhari, Imam Muslim dan Imam Ibnu Hazm. [Qawaaidut Tahdits min Fununi Musthalahil Hadits, hal. 113, tahqiq: Muhammad Bahjah al-Baithar]

b. Menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany rahimahullah (Ahli Hadits zaman sekarang ini), ia berpendapat: “Pendapat Imam al-Bukhari inilah yang benar dan aku tidak meragukan tentang kebenarannya.” [Tamaamul Minnah fii Ta’liq ‘ala Fiqhis Sunnah hal. 34, cet. Daarur Rayah, th. 1409 H]

Menurut para ulama, hadits dha’if tidak boleh diamalkan, karena:

Read More

Tidak Boleh Mengatakan Hadits Dha’if Dengan Lafazh Jazm [Lafazh Yang Memastikan atau Menentapkan]

Posted on Mar 29, 2014 in Fikih Hadits

hadist palsu[a]. Ada (lafazh yang digunakan dalam menyampaikan (meriwayatkan) hadits menurut pendapat Ibnush Shalah
Apabila orang menyampaikan (meriwayatkan) hadits dha’if, maka tidak boleh anda berkata: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Atau lafazh jazm yang lain, yakni lafazh yang memastikan atau menetapkan, seperti: “Fa’ala, rawaya, qola”.
Boleh membawakan hadits dha’if itu dengan lafazh: “Telah diriwayatkan atau telah sampai kepada kami be-gini dan begitu.”
Demikianlah seterusnya hukum hadits-hadits yang masih diragukan tentang shahih dan dha’ifnya. Tidak boleh kita berkata atau menulis: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Read More

Merujuk Kitab-kitab Para Ulama

Posted on Mar 8, 2012 in Fikih Hadits

Para ulama adalah pewaris para Nabi, kepada merekalah kita diperintahkan untuk bertanya, Allah Ta’ala berfirman:

“Tanyalah kepada ahli dzikir jika kamu tidak tahu”. (An Nahl : 43).

Dan yang dimaksud ahli dzikir di sini adalah para ulama karena mereka diberikan oleh Allah ilmu yang dalam terhadap Al Qur’an dan sunnah, menguasa segala macam ilmu alat untuk memahami keduanya, mereka diberikan pemahaman yang tajam yang tidak diberikan kepada selain mereka, terutama para ulama shahabat, tabi’in dan tabi’uttabi’in yang disaksikan kebaikannya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

خَيْرُ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baiknya umatku adalah generasiku, kemudian setelahnya kemudian setelahnya”. (HR Bukhari dan Muslim).

Dan mereka telah meninggalkan kepada kita warisan yang luhur berupa kitab-kitab yang berisi ilmu yang amat berharga yang tidak dapat dinilai oleh harta, maka kita memuji Allah yang telah mengadakan para ulama di setiap zaman, mereka telah menyingsingkan lengan untuk membimbing manusia kepada petunjuk, memahamkan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, menjaga kitabullah dari perubahan dan pemahaman yang menyesatkan, betapa indahnya pengaruh mereka kepada manusia, namun sayang betapa buruknya sikap manusia kepada mereka.

Dan kewajiban setiap muslim terhadap para ulama adalah meyakini beberapa perkara berikut :

Read More

Fikih Hadits 10: Bila Dalil Saling Bertentangan

Posted on Mar 3, 2012 in Fikih Hadits

Seringkali terjadi pertentangan antara dua dalil, dan yang harus difahami adalah bahwa syari’at islam tidak akan saling kontradiktif namun pemahaman manusia berbeda-beda dalam memahami sebuah nash, maka apabila ada dalil yang yang menurut pemahaman kita saling bertentangan, yang harus kita lakukan adalah mengkompromikan dalil-dalil tersebut dengan cara merujuk kitab-kitab para ulama diantaranya adalah kitab syarah musykil atsar yang ditulis oleh imam Abu Ja’far Ath Thahawi, ta’wil mukhtalafil hadits oleh Ibnu Qutaibah dan lain-lain.

Read More

Fikih Hadits 9: Memperhatikan Hadits-hadits Kaidah

Posted on Feb 27, 2012 in Fikih Hadits

Memahami hadits-hadits kaidah sangat membantu kita untuk mendalami tujuan syari’at yang mulia dan agung ini, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diberikan oleh Allah Jawami’ kalim artinya kata-kata yang ringkas namun mempunyai makna yang amat luas yang dapat dijadikan sebagai patokan dalam kehidupan kita.

Banyak kaidah-kaidah fiqih yang ditetapkan berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, diantara hadits-hadits yang dijadikan sebagai kaidah adalah hadits yang masyhur:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Amirul mukminin Umar bin Al Khoththob radliyallahu ‘anhu ia berkata, Rosulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:” Sesungguhnya amal itu dengan niat, dan sesungguhnya seseorang mendapatkan apa yang ia niatkan, barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan RosulNya maka hijrahnya kepada Allah dan RosulNya dan barang siapa yang hijrahnya kepada dunia yang ia cari atau wanita yang ingin ia nikahi maka hijrahnya sesuai dengan tujuannya“. (Muttafaq ‘alaih).

Read More

Fikih Hadits 8: Mengetahui Illat

Posted on Feb 27, 2012 in Fikih Hadits

Illat adalah sifat (alasan) yang tampak dan tetap yang dibangun diatasnya sebuah hukum, contohnya illat diharamkannya arak adalah memabukkan, illat diharamkannya zina adalah merusak keturunan, illat diharamkannya jual beli kucing dalam karung adalah gharar (tidak jelas akibatnya) dan majhul (tidak diketahui sifat barangnya), dan lain sebagainya.

Dan hendaknya kita berhati-hati dalam mengklaim illat sebuah perintah atau larangan, karena kesalahan dalam menentukan illat menyebabkan salah dalam mengkiyaskan, sebuah contoh misalnya perintah memanjangkan janggut dalam hadits:

جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ

 “Potonglah kumis, panjangkan janggut, selisihilah kaum majusi”. (HR Muslim).

Sebagian orang yang mencukur janggut berkata: “Perintah memanjangkan janggut itu berhubungan dengan menyelisihi kaum majusi, bila kaum majusi memanjangkan janggutnya maka kita boleh mencukur janggut karena illatnya sudah hilang karena kaidah mengatakan: “Hukum itu mengikuti illatnya”.

Read More