Fikih Hadits

Fikih Hadits 7: Menyikapi Lahiriyah (dhahir) Hadits

Posted on Feb 27, 2012 in Fikih Hadits

Ketahuilah pembaca yang budiman, seluruh ulama dari zaman kezaman bersepakat untuk menerima lahiriah sebuah hadits dan tidak memalingkannya kepada makna lain kecuali dengan dalil, bila engkau mendengar lafadz singa misalnya, yang kita fahami dari lafadz tersebut adalah binatang buas yang sudah kita kenal, tidak boleh kita palingkan maknanya kepada makna lain kecuali ada bukti yang menunjukkan kepadanya.

Mengamalkan lahiriyah (dzahir) dalil bukanlah madzhab Dzahiri, imam Asy Syaukani rahimahullah berkata: “Mengamalkan dzahir adalah pemikiran yang pertama kali ada dan yang terakhir bagi orang yang diberi sifat keadilan dan fitrahnya belum berubah, ia bukan hanya madzhab Daud Ad Dzahiri saja, namun ia adalah madzhab ulama-ulama besar yang mengikatkan diri dengan nash-nash syari’at dari semenjak zaman shahabat sampai hari ini, namun Daud masyhur dengan kejumudannya dalam menyikapi banyak masalah dimana ia berpegang kepada lahiriah yang tidak layak dipegang dan menolak qiyas yang seharusnya tidak boleh ditolak”. (Al Badru Ath Thali’ 2/288)[1].

Read More

Fikih Hadits 6: Mengenal Dalil yang Umum

Posted on Feb 27, 2012 in Fikih Hadits

Diantara faidah menguasai bahasa arab adalah memahami sebuah kata yang bermakna umum, sebuah contoh misalnya hadits:

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

 “Apa-apa yang aku larang jauhilah dan apa-apa yang aku perintahkan lakukanlah semampu kamu”. (HR Muslim).

Kata “maa” yang artinya apa mempunyai makna umum, maka semua yang diperintahkan oleh beliau hendaknya kita lakukan baik yang hukumnya wajib maupun yang hukumnya sunnah, karena sesuatu yang sunnah termasuk perkara yang diperintahkan oleh syari’at yang mulia ini. Demikian pula semua yang dilarang hendaknya kita tinggalkan baik yang hukumnya haram maupun makruh.

Read More

Fikih Hadits 5: Mempelajari Ushul Fikih

Posted on Feb 27, 2012 in Fikih Hadits

Ushul Fikih adalah ilmu yang sangat penting sekali bagi orang yang ingin memahami Al Qur’an dan hadits, dengan ilmu tersebut seorang penuntut ilmu dapat mengetahui bentuk kalimat yang menunjukkan kepada hukum wajib seperti kata kerja perintah dan lain sebagainya, atau sunah atau haram dan makruh atau mubah.

Seringkali terjadi kesalahan pemahaman akibat tidak memahami kaidah ushul fiqih, sebuah contoh adalah tidak bisa membedakan antara bid’ah dengan mashlahat mursalah, karena kedua-duanya memang mempunyai kemiripan yaitu sama-sama tidak ada nash yang menyatakan demikian, namun mashlahat mursalah berbeda dengan bid’ah dimana mashlahat mursalah bertujuan untuk menjaga pokok-pokok syari’at islam yang apabila ditinggalkan akan menimbulkan mafsadah yang besar sedangkan bid’ah tidak demikian.

Read More

Fikih Hadits-3: Mengetahui Sebab Terjadinya Hadits

Posted on Feb 17, 2012 in Fikih Hadits

Mengetahui sebab terjadinya hadits sangat membantu kita untuk memahami maksud suatu kejadian yang terjadi di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketidaktahuan sebab terjadinya hadits seringkali mengakibatkan jatuh kepada kesalahan pemahaman.

Sebuah contoh adalah adanya pembagian bid’ah menjadi dua yaitu bid’ah hasanah dan dlalalah, diantara hadits yang dijadikan dasar oleh mereka adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أُجُوِْرِهمْ شَيْءٌ. وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ.

“Barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.” (HR. Muslim)

Read More

Fikih Hadits-2: Mengumpulkan Lafazh-Lafazh Sebuah Hadits

Posted on Jan 19, 2012 in Fikih Hadits

Mengumpulkan lafadz-lafadz hadits sangat bermanfaat dalam menjelaskan sebuah makna yang samar atau global dalam suatu hadits, barangkali suatu hadits dijadikan hujah untuk membenarkan sebuah pemahaman yang salah, namun setelah kita kumpulkan lafadznya tampak dengan jelas kesalahan pemahaman tersebut.

Contohnya adalah hadits :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتىَّ لاَ يُقَالَ فِي الأَرْضِ اللهَ اللهَ

Dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu ia berkata, Rosulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ”Tidak tegak hari kiamat sampai tidak dikatakan lagi Allah.. Allah.. “.[1]

Hadits ini dijadikan dalil bolehnya berdzikir dengan lafadz Allah.. Allah.. saja sebagaimana yang fahami oleh kaum sufi, namun ada lafadz lain yang menjelaskan, yaitu hadits yang dikeluarkan oleh Ahmad dalam musnadnya[2]dengan sanad yang qowiy (kuat) dari Anas bin Malik bahwa Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتىَّ لَا يُقَالَ فِي الأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا الله

“Tidak akan tegak hari kiamat sampai tidak dikatakan lagi laa ilaaha illallah “.

Read More

Fikih Hadits-1: Mengumpulkan Semua Dalil Dalam Sebuah Permasalahan

Posted on Jan 18, 2012 in Fikih Hadits

Kaidah pertama dalam memahami fikih hadits adalah dengan mengumpulkan semua dalil dalam sebuah permasalahan.

Hal ini agar kita tidak jatuh kepada tata cara yahudi yang mengambil sebagian ayat dan membuang ayat lain yang tidak selera dengan hawa nafsunya, imam Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah berkata: “Ahli ilmu menulis semua dalil yang mendukung maupun yang tidak mendukung, sedangkan ahlul hawa hanya menulis dalil yang mendukung mereka saja”[1]. Dan perkataan ini diriwayatkan juga dari imam Wakii’ bin Al Jarraah[2].

Dan apa yang beliau katakan adalah benar, kita lihat setiap ahlul hawa hanya membawakan dalil yang sesuai dengan ra’yu mereka saja. Seperti Khawarij yang hanya mengambil hadits-hadits ancaman untuk mengkafirkan pelaku dosa besar seperti hadits:

لَا يَزْنِي الْعَبْدُ حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ حِينَ يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ

 “Tidaklah seorang hamba berzina ketika ia berzina dalam keadaan mukmin, dan tidaklah ia mencuri ketika ia mencuri dalam keadaan mukmin, dan tidaklah ia minum arak ketika ia meminumnya dalam keadaan mukmin”. (HR Bukhari dan Muslim).

Read More