Tafsir Surat Al-Maidah

Surat Al Maidah ayat 19

Posted on Dec 21, 2012 in Ilmu Tafsir, Tafsir Surat Al-Maidah

Surat Al Maidah ayat 19

Al-Maidah19

 

 

 

 

Artinya:

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika terputus (pengutusan) Rasul-Rasul agar kamu tidak mengatakan: “Tidak datang kepada kami, baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”. Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al Maidah ayat 19)

TAFSIR SHAHIH IBNU KATSIR
Allah Ta’ala berbicara pada Ahli Kitab dari kalangan Yahudi dan Nashrani bahwa Dia telah mengutus Rasul-Nya kepada mereka, yaitu Muhammad, penutup para Rasul, yang tiada Nabi dan Rasul lagi setelahnya. Tetapi dia menutup risalah semua para Nabi. Karena itu Dia berfirman: “ketika terputus (pengutusan) Rasul-Rasul” Yakni setelah masa yang cukup panjang antara diutusnya beliau dengan Isa putra Maryam.

Read More

Surat Al Maidah ayat 17 – 18

Posted on Dec 21, 2012 in Ilmu Tafsir, Tafsir Surat Al-Maidah

Surat Al Maidah ayat 17 – 18

AlMaidah17-18

Sumber Tafsir Ibnu Katsir 

Artinya: 

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putra Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putra Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?” Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(Al Maidah ayat 17)

Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu). (Al Maidah ayat 18)

Read More

Surat Al Maidah ayat 15 – 16

Posted on Nov 24, 2012 in Tafsir Surat Al-Maidah

Surat Al Maidah ayat 15 – 16

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan(Q.S-5:15). Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus(Q.S-5:16)

ALLAH MENJELASKAN KEBENARAN DENGAN RASUL DAN AL-QUR’AN

Read More

Tafsir Al Maidah, ayat 77-81

Posted on Nov 11, 2012 in Tafsir Surat Al-Maidah

Tafsir Al Maidah, ayat 77-81

Melura (Kamis, 8 Nov 2012) _ Kajian Ba’da Fajr – Qurm, Muscat

Referensi: Tafsir Al-Qur’am Jilid 2, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di

(Pentahqiq : Sa’ad bin Fawwaz ash-Shumail)

Artinya:

“Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Nab Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus. ‘Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu. Disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka, dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa), dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan menjadikan orang-orang musyrikin itu sebagai penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Tafsir Ayat (Ringkasan):

Di antara kedurhakaan Bani Israil yang menjadi penyebab turunnya azab dan terjadinya hukuman adalah bahwa “mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat.” Artinya, sebagian mereka melakukan kemungkaran tetapi sebagian dari mereka tidak melarang yang lain, maka dikatakan bahwa pelaku dan yang lainnya (yang mendiamkan kemungkaran), walaupun sebenarnya dia mampu menginkarinya, adalah sama.

            Itu menunjukan bahwa mereka meremehkan perintah Allah dan bagi mereka berbuat maksiat kepada-Nya, adalah sepele. Jika mereka memiliki penghormatan kepada Rabb mereka, niscaya mereka akan memiliki ghirah terhadap apa-apa yang diharamkan-Nya dan tentunya akan marah karena marah-Nya.

            Dan sesungguhnya, mendiamkan kemungkaran padahal dia mampu untuk mengingkarinya dapat menimbulkan azab, karena ia mengandung dampak negatif yang besar, di antaranya adalah:

–          Sekedar mendiamkan suatu maksiat saja, walaupun orang yang diam itu tidak melakukannya secara langsung, sebagaimana kemaksiatan harus dijauhi, maka pengingkaran terhadap kemaksiatan juga harus dilakukan.

–          Apa yang telah dijelaskan, yaitu bahwa itu menunjukkan rasa meremehkan terhadap kemaksiatan dan kurangnya rasa risih karenanya.

–          Bahwa hal itu membuat para pelaku kemaksiatan semakin berani memperbanyak kemaksiatan jika mereka belum jera darinya, maka keburukan meningkat, musibah dunia dan agama menjadi besar. Para pelaku kemaksiatan itu merajelal dan berkuasa, lalu setelah itu para pengikut kebaikan melemah dalam melawan para pengikut kemaksiatan, akhirnya apa yang dahulu mereka mampu lakukan, sekarang tidak lagi mampu mereka lakukan.

–          Hal ini juga menjadi penyebab terkikisnya ilmu dan merajalelanya kebodohan. Jika  kemaksiatan diulang-ulang dan dilakukan oleh banyak orang lalu para ulama tidak ada yang mengingkarinya, maka akan dikira bahwa ia bukanlah kemaksiatan, bahkan bisa jadi orang bodoh mengiranya sebagai ibadah yang baik. Kerusakan mana lagi yang lebih besar daripada meyakini apa yang diharamkan oleh Allah sebagai sesuatu yang halal, kebenaran menjadi jungkir balik dan yang haq terlihat sebagai suatu kebatilan?

–          Bahwa mendiamkan kemaksiatan bisa menghiasi kemaksiatan itu di hati manusia, lalu sebagian orang mengikuti sebagaian yang lain. Manusia cenderung meniru orang yang sepertinya dari kaumnya. Dan banyak lagi yang lainnya.

Mendiamkan kemungkaran akan berakibat seperti ini, maka Allah menyatakan bahwa Bani Israil yang kafir dari mereka dilaknat oleh-Nya karena kemaksiatan dan pelanggarannya dan dikhususkan dari itu kemungkaran besar ini, “Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.”

Disalin oleh Muhammad Mirza.

Read More

Surat Al Maidah ayat 12 – 14

Posted on Jun 9, 2012 in Tafsir Surat Al-Maidah

Surat Al Maidah ayat 12 – 14

 

 

 

 

 

 

Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat diantara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus(Q.S-5:12). Tetapi karena mereka melanggar janjinya, Kami laknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik(Q.S-5:13). Dan diantara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah Kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang mereka kerjakan(Q.S-5:14)

JANJI AHLI KITAB DAN LAKNAT YANG MEREKA TERIMA KARENA MEMBATALKAN JANJI ITU
Di ayat ini Allah menjelaskan kepada mereka bagaimana Dia mengambil janji atas orang-orang sebelum mereka dari kalangan Ahli Kitab, yakni Yahudi dan Nasrani. Ketika mereka membatalkan janji-janji Allah, maka akibatnya Allah melaknat mereka, serta mengusir mereka dari pintu dan haribaanNya. Dia menutup hati mereka sehingga tidak bisa menggapai hidayah dan agama yang hak, yaitu ilmu yang berguna dan amal shalih. Dia berfirman, “Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat diantara mereka 12 orang pemimpin” yakni para pemimpin atas kabilah mereka, dengan bai’at, agar mereka mendengar dan patuh kepada Allah, Rasul dan Kitab-Nya.

Muhammad bin Ishaq, Ibnu ‘Abbas r.a dan banyak yang lainnya menyebutkan bahwa hal ini terjadi tatkala Musa a.s berangkat untuk memerangi kaum yang sombong. Ia diperintahkan untuk mengangkat para pemimpin, yakni untuk setiap kabilah ada seorang pemimpin [Ath-Thabari X/113].

PARA PEMIMPIN ANSHAR PADA SAAT MALAM ‘AQABAH
Demikian pula ketika Rasullah SAW membai’at kaum Anshar pada malam ‘Aqabah. Di tengah mereka terdapat dua belas orang pemimpin: tiga dari Aus, yaitu : Usaid bin Al-Hudhair, Sa’d bin Khaitsamah dan Rifa’ah bin ‘Abdil Mundzir. Ada yang mengatakan ia diwakili oleh Abul Haitsam bin at-Tihan. Dan sembilan lagi dari Khazraj, yaitu : Abu Umamah As’ad bin Zararah, Sa’d bin ar-Rabi’, ‘Abdullah bin Rawahah, Rafi’ bin Malik bin al-‘Ajlan, al Bara’ bin Ma’rur, ‘Ubadah bin ash-Shamit, Sa’d bin Ubadah, ‘Abdullah bin ‘Amr bin Haram, dan al-Mundzir bin ‘Amr bin Khunais. Ka’b bin Malik telah menyebutkan mereka dalam sya’ir nya, sebagaimana dikemukakan Ibnu Ishaq[Ibnu Hisyam-II/86,87]. Maksudnya bahwa mereka adalah para pemimpin kaum mereka pada malam tersebut yang mengerti apa yang diperintahkan Nabi SAW kepada mereka. Merekalah orang-orang yang mewakili bai’at dari kaum mereka kepada Nabi SAW untuk mendengar dan patuh.

Firman-Nya,”Dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kamu,” yakni dengan penjagaan, perlindungan dan pertolonganKu. “Sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada Rasul-Rasul-Ku,” yakni membenarkan wahyu yang mereka bawa. “Dan kamu bantu mereka,” yakni menolong dan membantu mereka dalam kebenaran. “Dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik,” yaitu berinfaq di jalan-Nya dan mencari Ridha-Nya. “Sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu,” yakni Aku menghapus dosa-dosa kalian dan menutupinya serta tidak menghukum kalian karenanya. “Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai,” yakni Aku menolak hal yang merugikan dari kalian, dan Aku memberikan kepada kalian apa yang kalian inginkan.

JANJI DAN PEMBATALANNYA
Firman-Nya,”Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus,” Yakni barangsiapa yang menyelisihi janji ini setelah terikat kuat, mengingkarinya dan memperlakukannya dengan perlakuan sebagaimana orang yang tidak mengenal-Nya, maka ia telah salah jalan dan menyimpang dari petunjuk kepada kesesatan. Kemudian Dia mengabarkan hukuman bagi mereka karena menyelisihi dan membatalkan janji-Nya dengan firman-Nya, “Tetapi karena mereka melanggar janjinya, Kami laknat mereka,” yakni Kami jauhkan mereka dari kebenaran dan menjauhkan mereka dari hidayah. “Dan Kami jadikan hati mereka keras membatu,” yakni mereka tidak bisa mengambil suatu pelajaran karena hatinya keras membatu.

Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya,” yakni rusak pemahaman mereka dan buruk perlakuan mereka terhadap ayat-ayat Allah. Mereka mentakwil Kitab-Nya tidak sesuai dengan maksud Allah menurunkannya.  Mereka memahaminya tidak sesuai dengan maksudnya. Merekapun mengatakan tentang ayat-ayat Allah apa yang tidak tertera di dalamnya. Kita berlindung kepada Allah dari hal itu. “Dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya,”yakni tidak mengamalkannya karena tidak menyukainya. “Dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka,” yakni tipuan dan pengkhianatan mereka kepadamu dan para Sahabatmu. Menurut Mujahid dan selainnya, maksudnya adalah mereka berkomplot untuk membinasakan Rasulullah SAW.[Ath-Thabari-X/131].

Maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka,” Ini pada hakekatnya adalah kemenangan. Sebagaimana kata ulama salaf, “Tidak ada sikap yang lebih baik terhadap orang yang bermaksiat kepada Allah berkenaan dengan dirimu dibanding engkau menaati Allah (yakni memaafkannya).” Dengan cara ini, hati mereka akan menjadi lunak dan tunduk pada kebenaran, serta mudah-mudahan Allah memberi petunjuk kepada mereka. Karena itu Dia berfirman,”Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik,” maksudnya memaafkan orang yang pernah berbuat buruk kepadamu. Menurut Qatadah, ayat ini, “Maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka,” telah dihapuskan dengan firman-Nya, “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir,”[Ath-Thabari-X/131].

KAUM NASHRANI MELUPAKAN JANJI MEREKA DAN AKIBATNYA
Firman-Nya,”Dan diantara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah Kami ambil perjanjian mereka,” yakni diantara orang-orang yang mengaku bahwa mereka orang-orang Nasrani, para pengikut al-Masih putera Maryam a.s -padahal mereka tidak demikian- telah Kami ambil janji mereka untuk mengikuti, menolong, membela dan mengikuti jejak Rasul (Muhammad) SAW serta beriman kepada semua Nabi yang diutus Allah kepada penduduk bumi. Namun, ternyata mereka melakukan sebagaimana yang telah dilakukan kaum Yahudi. Mereka menyelisihi dan mambatalkan perjanjian. Karenanya, Allah berfirman,”Tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat,” yakni Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka satu sama lain, dan mereka akan terus demikian hingga hari Kiamat.

Kemudian Allah berfirman, “Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang mereka kerjakan,” Ini ancaman yang sangat keras terhadap kaum Nasrani atas kedustaan yang mereka lakukan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Mereka menisbatkan kepada Rabb -Mahasuci Allah dari perkataan mereka- bahwa Allah memiliki istri dan anak. Maha Suci Allah Yang Maha Esa, Tunggal, tempat bergantung segala sesuatu, yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, serta tidak ada satu pun yang setara dengan Dia.

Read More

Surat Al Maidah ayat 7 – 11

Posted on Apr 27, 2012 in Tafsir Surat Al-Maidah

Surat Al Maidah ayat 7 – 11

Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: “Kami dengar dan kami taati”. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mengetahui isi hati(mu).(Q.S-5:7). Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Q.S-5:8).Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.(Q.S-5:9). Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu adalah penghuni neraka. (Q.S-5:10).Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakkal. (Q.S-5:10).

Allah berfirman:

“Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: “Kami dengar dan kami taati”.

Perjanjian ini adalah bai’at yang mereka lakukan terhadapat Rasulullah S.A.W ketika menyatakan keislaman mereka. Sebagaimana perkataan mereka, “Kami bai’at Rasulullah S.A.W untuk mendengarkan dan patuh, baik dalam keadaan giat maupun terpaksa. Kami pun akan lebih mendahulukan beliau atas diri kami. Kami pun berjanji tidak akan mencabut pemerintahan dari pemiliknya.”

Kemudian Allah SWT berfirman,”Dan bertakwalah kepada Allah” sebagai penegasan dan perintah untuk senantiasa bertakwa dalam segala keadaan. Kemudian Allah SWT memberitahukan kepada mereka bahwa Dia mengetahui apa yang ada dalam hati berupa rahasia-rahasia dan lintasan-lintasan pikiran. Dia berfirman , “Sesungguhnya Allah mengetahui isi hati(mu)”


KEWAJIBAN UNTUK SENANTIASA BERSIKAP ADIL
Firman-Nya,”Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah.” Yakni, jadilah kalian orang-orang yang selalu menegakkan al-haqq karena Allah SWT, bukan karena manusia dan sum’ah (mencari popularitas). Dan jadilah kalian “Saksi dengan adil, ” yakni bukan dengan kezhaliman.

Firman-Nya,”Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.” Yakni janganlah kebencian kepada suatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil terhadap mereka. Tetapi berlaku adillah pada setiap orang, baik teman maupun musuh. Karena itu Dia berfirman, “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” Yakni keadilan kalian itu lebih dekat kepada ketakwaan daripada meninggalkannya.

Firman-Nya, “Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Yakni, Dia akan memberi balasan kepada kalian atas apa yang diketahui-Nya dari perbuatan yang kalian lakukan. Jika baik, maka Dia membalasnya dengan kebaikan, dan jika buruk, maka Dia membalasnya dengan keburukan. Karena itu, Dia berfirman sesudahnya,

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan,” bagi dosa-dosa mereka, “Dan pahala yang besar.” Yaitu surga yang merupakan Rahmat-Nya atas para hamba-Nya. Semua itu tidak mereka peroleh dengan amal mereka, tetapi semata-mata rahmat dan karunia dari-Nya, meskipun sebab sampainya rahmat tersebut kepada mereka ialah amal perbuatan mereka. Namun, Dia-lah yang menjadikannya sebagai sebab untuk meraih rahmat, karunia, ampunan dan keridhaan-Nya. Jadi, semua itu dari-Nya dan kepunyaan-Nya. Segala puji dan karunia hanya bagi-Nya.

Kemudian Dia berfirman:
“Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu adalah penghuni neraka”. Ini merupakan keadilan, kebijaksanaan, dan hukum Allah yang tidak aniaya. Bahkan Dia adalah hakim yang adil, Mahabijaksana dan Mahakuasa.

DITAHANNYA TANGAN-TANGAN KAUM KAFIR DARI MENGGANGGU KAUM MUSLIMIN ADALAH SUATU KENIKMATAN

Firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kamu“.  ‘Abdurrazzaq meriwayatkan dari Jabir bahwa Nabi S.A.W singgah di suatu tempat, sementara orang-orang berpencar mencari pohon untuk berteduh, dan beliau menggantungkan senjatanya pada pohon. Datanglah seorang badui mengambil pedang Rasulullah S.A.W lalu menghunusnya. Kemudian ia mendatangi Nabi S.A.W seraya mengatakan, “Siapakah yang akan menghalangimu dariku?” Beliau menjawab,”Allah S.W.T” .Orang badui itu mengatakan kembali dua atau tiga kali, “Siapakah yang akan menghalangimu dariku?” Beliau menjawab,”Allah”. Orang badui itu pun memasukkan kembali pedang ke wadahnya. Nabi S.A.W lalu memanggil para Sahabatnya dan menyampaikan kepada mereka perihal orang badui itu. Ketika itu orang badui tersebut sedang duduk di samping beliau, dan beliau tidak membalasnya. Ma’mar mengatakan bahwa Qatadah menyebutkan riwayat yang semisal dengannya. Ia menyebutkan bahwa suatu kaum dari bangsa Arab hendak membinasakan Rasulullah SAW. Mereka mengutus orang badui ini. Ia menafsirkan ayat ini dengan kisah tersebut [‘Abdurrazzaq (I/185)]. Kisah tentang orang badui bernama Ghurats bin Al-Harits ini terdapat dalam ash-Shahiih (Al Bukhari no. 4135, 4136, dan 4139. Juga diriwayatkan oleh Muslim no.843)

Muhammad bin Ishaq bin Yasar, Mujahid, ‘Ikrimah dan banyak yang lainnya menyebutkan bahwa ayat ini turun perihal Bani Nadhir ketika mereka hendak menjatuhkan batu pada kepala Rasulullah SAW, tatkala beliau datang kepada mereka untuk meminta bantuan berkenaan dengan diyat dua orang Bani Amir. Mereka menyerahkan tugas tersebut kepada ‘Amr bin Jahhasy bin Ka’b. Mereka menyuruhnya, jika Nabi SAW duduk di bawah dinding dan mereka berkumpul di dekatnya, agar agar menjatuhkan batu itu dari atasnya. Namun, Allah SWT memperlihatkan kepada Nabi SAW mengenai apa yang hendak mereka rencanakan terhadapnya. Beliau pun kembali ke Madinah dan diikuti oleh para Shahabatnya, maka berkenaan dengan hal itu, Allah menurunkan ayat ini.
“Dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakkal”, Yakni barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah melindunginya dari apa yang membuatnya bersedih, dan menjaganya dari keburukan manusia. Kemudian Rasullah SAW diperintahkan untuk menyerbu mereka. Selanjutnya mereka dikepung hingga beliau berhasil mengusir mereka dari negerinya.

Read More