Posts Tagged "fikih hadits"

Fikih Hadits 10: Bila Dalil Saling Bertentangan

Posted on Mar 3, 2012 in Fikih Hadits

Seringkali terjadi pertentangan antara dua dalil, dan yang harus difahami adalah bahwa syari’at islam tidak akan saling kontradiktif namun pemahaman manusia berbeda-beda dalam memahami sebuah nash, maka apabila ada dalil yang yang menurut pemahaman kita saling bertentangan, yang harus kita lakukan adalah mengkompromikan dalil-dalil tersebut dengan cara merujuk kitab-kitab para ulama diantaranya adalah kitab syarah musykil atsar yang ditulis oleh imam Abu Ja’far Ath Thahawi, ta’wil mukhtalafil hadits oleh Ibnu Qutaibah dan lain-lain.

Read More

Fikih Hadits-4: Menguasai Bahasa Arab

Posted on Feb 17, 2012 in Fikih Sunnah

Bahasa arab sangat diperlukan bagi orang yang ingin memahami hadits dengan benar, dengan menguasai bahasa arab seorang penuntut ilmu dapat memahami mana kata kerja perintah dan mana kata kerja larangan, juga dapat membedakan antara nakirah dan ma’rifah, mana dlamir mukhatab (Kata ganti kedua) dan mana dlamir mutakallim (kata ganti pertama) dan lain sebagainya.

Sebuah contoh misalnya hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :

إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

 “Apabila kalian mendengar muadzin melantunkan adzan, maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan, kemudian bershalawatlah kepadaku, karena sesungguhnya orang yang bershalawat kepadaku sekali maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali”. (HR Muslim).

Read More

Fikih Hadits-3: Mengetahui Sebab Terjadinya Hadits

Posted on Feb 17, 2012 in Fikih Hadits

Mengetahui sebab terjadinya hadits sangat membantu kita untuk memahami maksud suatu kejadian yang terjadi di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketidaktahuan sebab terjadinya hadits seringkali mengakibatkan jatuh kepada kesalahan pemahaman.

Sebuah contoh adalah adanya pembagian bid’ah menjadi dua yaitu bid’ah hasanah dan dlalalah, diantara hadits yang dijadikan dasar oleh mereka adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أُجُوِْرِهمْ شَيْءٌ. وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ.

“Barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.” (HR. Muslim)

Read More

Fikih Hadits-2: Mengumpulkan Lafazh-Lafazh Sebuah Hadits

Posted on Jan 19, 2012 in Fikih Hadits

Mengumpulkan lafadz-lafadz hadits sangat bermanfaat dalam menjelaskan sebuah makna yang samar atau global dalam suatu hadits, barangkali suatu hadits dijadikan hujah untuk membenarkan sebuah pemahaman yang salah, namun setelah kita kumpulkan lafadznya tampak dengan jelas kesalahan pemahaman tersebut.

Contohnya adalah hadits :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتىَّ لاَ يُقَالَ فِي الأَرْضِ اللهَ اللهَ

Dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu ia berkata, Rosulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ”Tidak tegak hari kiamat sampai tidak dikatakan lagi Allah.. Allah.. “.[1]

Hadits ini dijadikan dalil bolehnya berdzikir dengan lafadz Allah.. Allah.. saja sebagaimana yang fahami oleh kaum sufi, namun ada lafadz lain yang menjelaskan, yaitu hadits yang dikeluarkan oleh Ahmad dalam musnadnya[2]dengan sanad yang qowiy (kuat) dari Anas bin Malik bahwa Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتىَّ لَا يُقَالَ فِي الأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا الله

“Tidak akan tegak hari kiamat sampai tidak dikatakan lagi laa ilaaha illallah “.

Read More

Fikih Hadits-1: Mengumpulkan Semua Dalil Dalam Sebuah Permasalahan

Posted on Jan 18, 2012 in Fikih Hadits

Kaidah pertama dalam memahami fikih hadits adalah dengan mengumpulkan semua dalil dalam sebuah permasalahan.

Hal ini agar kita tidak jatuh kepada tata cara yahudi yang mengambil sebagian ayat dan membuang ayat lain yang tidak selera dengan hawa nafsunya, imam Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah berkata: “Ahli ilmu menulis semua dalil yang mendukung maupun yang tidak mendukung, sedangkan ahlul hawa hanya menulis dalil yang mendukung mereka saja”[1]. Dan perkataan ini diriwayatkan juga dari imam Wakii’ bin Al Jarraah[2].

Dan apa yang beliau katakan adalah benar, kita lihat setiap ahlul hawa hanya membawakan dalil yang sesuai dengan ra’yu mereka saja. Seperti Khawarij yang hanya mengambil hadits-hadits ancaman untuk mengkafirkan pelaku dosa besar seperti hadits:

لَا يَزْنِي الْعَبْدُ حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ حِينَ يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ

 “Tidaklah seorang hamba berzina ketika ia berzina dalam keadaan mukmin, dan tidaklah ia mencuri ketika ia mencuri dalam keadaan mukmin, dan tidaklah ia minum arak ketika ia meminumnya dalam keadaan mukmin”. (HR Bukhari dan Muslim).

Read More